Hari Lahir Pondok Pesantren Safinatul Qodiri, Jombang Ciputat, Tangerang Selatan, menjadi hajatan bersama masyarakat dan wajah merajut kebersamaan dan persatuan
Ciputat, HUMAS MEDIA – Cermin merawat kebersamaan dan persatuan begitu terasa saat berada di peringatan Milad atau hari lahir Pondok Pesantren Safinatul Qodiri, di Rawa Lele, Jombang Ciputat, Tangerang Selatan.
Kemeriahan mulai terasa begitu melihat baliho besar di mulut jalan menuju Lapangan Bahrus Syafa’ah, Jalan SDN Inpres, lokasi acara Dzikir Akbar pada Kamis (15/1/2026) malam.
Umbul-umbul hijau yang menancap di setiap sudut jalan pun seakan menyambut para tamu yang dating dari berbagai daerah.
Panggung besar dengan Giant Banner berwajah Pendiri sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Safinatul Qodiri dan guru tercintanya terpampang sebagai latar belakang menghadap jemaah.
Begitu masuk gang Dzikir, masyarakat setempat terlihat larut dalam persiapan acara Harlah ke-13. Beberapa orang bapak-bapak terlihat memotong bambu untuk dibuat pagar pembatas jemaah, dan Sebagian lain memotong tanaman dan membersihkan halaman.
Baca Juga: Doa Kapolres Tangsel di Harlah ke-13 Pesantren Safinatul Qodiri
Jalan masuk sedikit ke gang, sebalah kiri terdapat ruang garasi yang disulap menjadi tempat makan. Suasana mirip hajatan pernikahan, semua tamu makan dengan parasmanan. Menunya pun berkelas, kentang sambal, rendang daging, sop kambing dan asinan.
Semua tamu yang datang wajib makan parasmanan. “Ayok, mas makan dulu sebelum masuk ke dalam,” ujar Pak Salam, petugas penerima tamu.
Nuansa Persaudaraan
Kemudian masuk ke dalam hanya beberapa belas meter, terlihat kesibukan kaum ibu yang menghidangkan masakan. Terlihat wajan besar yang sedang memasak kentang sambal.
Posisi dapur itu masih satu gang dengan letak pondok pesantren. Begitu tiba di depan pondok suasana persaudaraan begitu kental.
Bersalaman dan duduk bersila di halaman pondok dengan menghadap bangunan gebyog bernuansa keraton. Tak ada kursi tamu apalagi sopa, semuanya duduk lesehan di atas karpet beragam warna.
Gunungan berisi hasil bumi yang disusun sedemikian rupa persis berada di sudut kiri bagian muka. Terlihat cabe, wortel, kacang Panjang menjuntai di bagian bawah. Kemudian ada juga buah salak, pisang dan paling atas adalah Nanas.
Baca Juga: Harlah ke-13 Pondok Pesantren Safinatul Qodiri Hadirkan Ulama Kharismatik
Filosofinya apa Nanas paling atas? Apakah hanya karena bagian ujungnya yang membentuk mahkota, tanya saya.
Seniman Raggae Putra Mbah Surip

Menjelang waktu ashar, rombongan yang menggunakan tiga unit kendaraan travel berplat nomor polisi dari Bandung Jawa Barat tiba di lokasi. Mereka terdiri dari Jemaah lelaki dan perempuan keluar dari kendaraan.
Mereka bergaya khas dengan kain sarung dan peci serta serban dipundak kanan. Ada juga yang berbaju takwa dan celana hitam dengan membawa tas gendong besar.
Rombongan itu datang berbarengan dengan sosok seniman bergaya unik. Membawa gitar dengan penutup kepala warna-warni. Kupluk Mbah Surip, begitu identiknya bentuk penutup kepala tamu yang juga hadir di Harlah tersebut.
Belakangan diketahui, Varid Wahyu, putra dari almarhum Mbah Surip yang menjadi pengisi acara dalam harlah. Varid tiba dengan kupluk warna-warni dan rambut gimbal.
Harlah ke-13 mengangkat tema “Dengan Hati Merangkul Umat, Merajut Kebersamaan”. Perhelatan akbar ini menjadi magnet bagi para pencari ilmu dan keberkahan.
Hadirnya tokoh-tokoh ulama kharismatik menambah kental nuansa spiritual dalam acara yang berlangsung hingga tengah malam tersebut.
Pengasuh Pondok Pesantren Nurussalam & Walisongo, Tuban, Jawa Timur, KH. Abraham Naja MN (Gus Naja) serta Sultan Banten Ratu Bagus Hendra Bambang Wisanggeni Soerjaatmadja. Kehadiran para tokoh ini mempertegas misi pesantren untuk merangkul umat dengan cinta tanpa membeda-bedakan latar belakang.
Perjalanan Spiritual

Pengasuh Ponpes Safinatul Qodiri, Abuya Kyai Habib Umar Bin Abdul Hadi Al-As’Ary dalam sambutannya membedah makna mendalam di balik angka-angka perjalanan pesantren yang sarat filosofi spiritual.
Beliau memaparkan bahwa perjalanan dakwah dimulai tahun 2008 di Pondok Pucung selama 10 tahun. Kemudian pindah ke Jombang Rawa Lele selama 7 tahun.
Total 17 tahun perjalanan ini dimaknai sebagai pengingat akan 17 rakaat dalam salat lima waktu.
”Di Rawa Lele ini sudah 7 tahun. Dalam bahasa Jawa, tujuh itu Pitu, yang artinya Pitulunge (pertolongan) Gusti Allah SWT,” tutur Abuya Kyai Habib Umar dengan nada teduh.
Kegiatan Harlah ke-13 ini pun berlangsung meriah dan khidmat. Momentum Harlah ini, mengukuhkan posisi pondok bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga wadah pemersatu bangsa yang berangkat dari hati.


