Doa Kapolres Tangerang Selatan untuk Pondok Pesantren Safinatul Qodiri, Jombang Ciputat Tangerang Selatan di Hari Lahir ke-13
Aktual Tangerang – Kapolres Tangerang Selatan AKBP Boy Jumalolo menyampaikan doa di Hari Lahir ke-13 Pondok Pesantren Safinatul Qodiri, Jombang Ciputat, Tangerang Selatan.
Harlah ke-13 ini akan menggelar Doa Bersama untuk keselamatan bangsa di Lapangan Bahrus Safa’ah, Jombang Rawa Lele, Kecamatan Ciputat pada Kamis (15/1/2026) malam.
Adapun tema yang diusung “Dengan Hati Merangkul Umat, Merajut Kebersamaan.”
Kapolres Tangsel mengawali ucapan selamat atas hari lahir sekaligus mendoakan semoga senantiasa diberikan keberkahan.
Dalam doanya, Kapolres Tangsel melambungkan harapan ke langit semoga Safinatul Qodiri terus maju dalam mendidik dan mencetak generasi penerus bangsa yang religius.
Baca Juga: Harlah ke-13 Pondok Pesantren Safinatul Qodiri Hadirkan Ulama Kharismatik
“Berakhak mulia dan berperan aktif dalam menjaga persatuan dan kesatuan negara Republik Indonesia,” ujar AKBP Boy Jumalolo dalam video rekamannya.
Kapolres Tangsel berharap Pondok Pesantren Safinatul Qodiri terus bersinergi dengan Polri dalam mewujudkan lingkungan yang aman dan tertib.
“Kami berharap Pondok Pesantren Safinatul Qodiri terus bersinergi dengan Polri dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Demi terwujud lingkungan aman, damai dan kondusif,” ujar perwira menengah yang sebelumnya bertugas di Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortastipidkor) Polri itu.
Kirab Gunungan
Ketua Yayasan Safinatul Qodiri, Aminuddin, menyampaikan undangan terbuka kepada seluruh masyarakat. Aminuddin berharap seluruh jemaah hadir dalam acara Doa Bersama nanti malam.
Doa Bersama tersebut bakal menghadirkan ulama kharismatik dan tokoh agama.
Prof. Dr. KH. KPP. Noer Nasroh Hadiningrat, SH., M. MPd, Pendiri Pondok Pesantren Wali Songo Gomang; dan KH RM Abraham Naja MN, S.H, M,H atau yang beken disapa Gus Naja, pengasuh Pondok Pesantren Nurussalam & Wali Songo Gomang, Jawa Timur.
Dzikir Manakib yang dipimpin oleh Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Safinatul Qodiri, Kyai Habib Umar Bin Abdul Hadi Al-Asy’ari. Pada malam itu juga, akan ada acara Kirab Gunungan yang berjalan Bersama Kirab Bendera Pusaka.
“Kami mengundang Bapak/Ibu hadir acara hari jadi Ponpes Safinatul Qodiri dan doa Bersama untuk keselamatan bangsa,” ujar Aminudin.
Sejarah Tradisi Gunungan
Berdasarkan data yang dihimpun, Gunungan merupakan tradisi Islam Nusantara. Gunungan terdiri dari susunan hasil bumi, seperti sayur-mayur,buah-buahan, dan jajanan pasar yang disusun menyerupai gunung.
Dalam pandangan masyarakat muslim di tanah Jawa dan Nusantara, gunungan bukan sekadar hiasan belaka. Melainkan symbol spiritual.
Secara filosofis, gunung melambangkan keagungan, keteguhan iman, dan tempat turunnya wahyu. Simbol ini sekaligus mengingatkan pada Gunung Sinai yang juga disebut Gunung Tursina, tempat Nabi Musa As menerima wahyu.
Juga Gua Hira, gua kecil di puncak Jabal Nur tempat Nabi Muhammad menerima wahyu pertama dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril. Gunungan menjadi simbol hubungan vertikal manusia dengan Allah.
Gunungan sebagai media dakwah Wali Songo di Jawa. Wali Songo melakukan pendekatan budaya local dan mengislamkan makna budaya. Wali Songo menjadikan tradisi sebagai sarana dakwah. Gunungan yang sebelumnya bermakna kosmologis Hindu-Buddha diubah menjadi simbol sedekah dan berbagi rezeki.


