Jakarta,HUMAS MEDIA – Mobil hybrid telah hadir selama lebih dari dua dekade bersama penggunanya. Akan tetapi harga kendaraan ini masih relatif mahal dibandingkan mobil konvensional berbahan bakar bensin atau diesel.
Public Relations Manager PT Toyota Astra Motor (TAM), Philardi Ogi, mengatakan bahwa harga mobil hybrid mahal karena menggunakan teknologi yang mahal. Teknologi pada mobil hyrid ini berbeda dengan mesin konvensional biasa.
Meskipun teknologi hybrid bukan lagi hal baru, ada beberapa alasan utama mengapa harganya tetap tinggi.
•Biaya Produksi Baterai yang Masih Mahal
Salah satu komponen utama dalam mobil hybrid adalah baterai, yang biasanya menggunakan teknologi lithium-ion atau nikel-metal hidrida.Produksi baterai ini memerlukan bahan baku yang mahal, seperti litium dan kobalt, serta proses manufaktur yang kompleks.
Meskipun biaya baterai telah menurun dalam beberapa tahun terakhir, harganya masih cukup tinggi dan menjadi faktor utama dalam harga mobil hybrid.
•Kompleksitas Teknologi dan Biaya R&D
Mobil hybrid menggunakan dua sistem penggerak: mesin pembakaran internal dan motor listrik. Ini berarti kendaraan membutuhkan sistem yang lebih kompleks, termasuk perangkat lunak canggih untuk mengatur transisi antara kedua sumber tenaga.
Produsen mobil harus terus mengembangkan dan meningkatkan teknologi ini agar lebih efisien, sehingga biaya riset dan pengembangan (R&D) tetap tinggi dan berkontribusi pada harga jual.
•Volume Produksi Masih Lebih Rendah Dibanding Mobil Konvensional
Produksi mobil hybrid masih jauh lebih rendah dibandingkan mobil berbahan bakar konvensional. Dengan volume produksi yang lebih kecil, skala ekonominya tidak sebesar mobil bensin atau diesel. Akibatnya, biaya per unit mobil hybrid tetap tinggi karena tidak ada penghematan besar dalam produksi massal.
•Komponen Tambahan yang Tidak Ada di Mobil Konvensional
Selain baterai dan motor listrik, mobil hybrid membutuhkan inverter, sistem pendingin baterai, sistem regenerasi energi, dan sistem manajemen daya yang tidak ditemukan pada mobil biasa. Setiap komponen ini menambah biaya produksi, yang pada akhirnya meningkatkan harga kendaraan.
•Regulasi dan Pajak yang Berbeda di Tiap Negara beberapa negara memberikan insentif untuk kendaraan hybrid, tetapi ada juga yang tetap mengenakan pajak tinggi karena menganggapnya masih berbasis bahan bakar fosil.
Perbedaan regulasi ini memengaruhi harga jual hybrid di berbagai pasar, terutama di negara-negara yang belum memiliki subsidi atau kebijakan ramah lingkungan yang kuat.
•Permintaan yang Masih Terbatas
Meskipun kesadaran akan lingkungan meningkat, banyak konsumen masih lebih memilih mobil bensin atau langsung beralih ke mobil listrik penuh (EV). Dengan permintaan yang belum sebesar mobil konvensional, harga mobil hybrid tetap tinggi karena produsen belum bisa menekan biaya produksi secara signifikan.
“Dilihat dari komposisi pasar, penggunaan Hybrid baru mencapai 7 persen,masih kecil.Namun ,jika komposisinya meningkat, misalnya 20%,maka skala ekonomi akan menurun karena teknologi akan semakin massal”katanya.
Walaupun teknologi hybrid bukanlah hal baru, harga mobil hybrid tetap tinggi karena faktor biaya produksi baterai, kompleksitas teknologi, volume produksi yang masih rendah, serta regulasi yang berbeda-beda.
Namun, seiring perkembangan teknologi dan meningkatnya permintaan kendaraan ramah lingkungan, harga mobil hybrid bisa turun di masa depan, terutama jika baterai semakin murah dan produksi meningkat.