Dasar BMKG Tentukan Prakiraan Cuaca
Dasar prakiraan cuaca BMKG menggunakan data observasi atmosfer (dari satelit, radar cuaca, stasiun meteorologi, kapal, hingga pesawat) yang dipadukan dengan model numerik cuaca. Model ini adalah perhitungan matematis superkompleks yang dijalankan dengan komputer berkecepatan tinggi (supercomputer) untuk memprediksi pergerakan atmosfer.
Bagaimana dengan tingkat akurasi? Prakiraan jangka pendek, durasi satu hingga tiga hari memiliki akurasi relatif tinggi. Bahkan akurasinya bisa mencapai 80–90 persen karena pola atmosfer masih cukup stabil dan terukur. Sedangkan durasi prakiraan menengah, yakni empat sampai satu pekan akurasinya mulai menurun menjadi sekitar 60–75 persen. Apa sebab, karena semakin jauh, variabel atmosfer makin kompleks dan sulit diprediksi.
Prakiraan jangka Panjang lebih dari sepekan tingkat akurasi relatif rendah, yakni 50 persen ke bawah). Biasanya BMKG lebih menggunakan istilah prakiraan musiman (prediksi tren hujan, suhu, atau fenomena El Niño/La Niña) daripada detail harian.
Adapun faktor yang mempengaruhi akurasi ada tiga, yakni kondisi geografis, fenomena atosfer skala kecil dan keterbatasan teknologi dan data. Kondisi geografis Indonesia adalah negara kepulauan tropis, dikelilingi laut hangat, dengan pola angin muson, konveksi lokal, hingga topografi pegunungan.
Hal ini membuat cuaca sangat cepat berubah, bahkan dalam hitungan jam.
Sementara fenomena atmosfer skala kecil, misalnya hujan lokal akibat awan konvektif (awan cumulonimbus) di satu kecamatan, bisa sulit diprediksi karena skalanya sempit. Terakhir keterbatasan teknologi & data. Meski BMKG sudah punya radar cuaca dan satelit, jangkauan observasi di wilayah luas seperti Indonesia tetap ada batasnya.