Permusuhan Antara Iran dan Israel
Pada tanggal 14 April 2024, Iran menembakkan lebih dari 300 pesawat nirawak dan rudal ke arah Israel sebagai tanggapan atas serangan Israel terhadap Konsulat Iran di Damaskus, yang menyebabkan tujuh anggota Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran tewas pada 1 April 2024.
Israel mengklaim bahwa hampir semua drone dan rudal balistik Iran berhasil dicegat oleh sistem pertahanan Israel dan sekutunya, termasuk Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris. Meskipun Israel mengakui bahwa serangan itu mencapai salah satu pangkalan udara militernya, namun tidak menyebabkan kerusakan serius.
Setelah konflik tersebut, hampir 50 negara mengeluarkan pernyataan mengutuk serangan Iran terhadap Israel dan menyerukan semua pihak di kawasan untuk berusaha mencegah eskalasi konflik.
Baca Juga: Profil dan Biodata Gelandang Persib Levy Clement Madinda Fokus Menang di Kandang
Negara-negara tersebut, termasuk Albania, Argentina, Australia, Austria, Belgia, Inggris, Bulgaria, Kanada, Kroasia, Denmark, Ekuador, Estonia, Finlandia, Prancis, Jerman, Yunani, Hongaria, Islandia, Irlandia, Israel, Italia, Jepang, Latvia, Belanda, Selandia Baru, Norwegia, Mikronesia, Palau, Papua Nugini, Polandia, Portugal, Korea Selatan, Romania, Slovakia, Slovenia, Spanyol, Swedia, Ukraina, dan Amerika Serikat.
Semua negara itu, menekankan bahwa peningkatan serangan Iran merupakan bagian dari pola perilaku berbahaya dan destabilisasi yang dilakukan oleh Iran dan mitra militernya, yang mengancam perdamaian dan keamanan internasional.
AS, Uni Eropa, dan kelompok negara-negara industri G7 juga mengumumkan rencana untuk mempertimbangkan sanksi yang lebih ketat terhadap Iran, dengan tujuan mendukung Israel dan pada saat yang sama mengimbau Israel untuk menahan diri dari tindakan balasan terhadap Iran.